Di kantor saya memiliki kawan yang sangat terbuka, namanya Ira. Saya mengenal Ira tahun 2001 ketika dia diterima sebagai CPNS di pemkab Sleman tempat saya bekerja. Kebetulan dia ditempatkan di tempat yang sama dengan saya.
Hari-hari kami lalui dengan keseriusan dan canda dalam menjalankan tugas. Sampai suatu ketika, kami dipercaya mengawal penyusunan laporan keuangan pada tahun 2002 karena latar belakan pendidikan kami (catatan: pada tahun tersebut, laporan keuangan merupakan barang langka di pemerintahan). Sebagai pegawai junior kami selesaikan tugas tersebut bersama dengan beberapa kawan yang lain.
Tidak selesai di situ. Pada tahun-tahun berikutnya kami mendampingi dinas-dinas menyusun laporan keuangan. Tekanan kerja yang tinggi membuat hubungan kamipun semakin erat seperti keluarga.
Di sela-sela kesibukan, apapun biasa kami bahas, mulai dari hal-hal yang remeh, merencanakan acara akhir minggu (yang tak juga terlaksana sampai sekarang) hingga urusan kantor (yang serius). Pada suatu titik tertentu, Irapun menyampaikan sebuah gagasan yang saya pandang ‘brilliant’.
Alkisah, Ira memandang perlu bagi saya untuk membangun rumah yang lebih ‘layak’. Pandangan ini disampaikannya setelah menimbang, mengingat dan melihat situasi yang saya hadapi baik di rumah maupun di kantor (termasuk kedekatan saya dengannyapun menjadi pertimbangan pula – katanya). Ketika itu saya sempat ‘terprovokasi’ untuk mengiyakan.
Saya kemudian membuat skala prioritas, mengkalkulasi kebutuhan pendanaan, hutang dan time schedule pembayaran. Mainstream yang melekat di benak kami (saya dan istri) adalah bahwa kami tidak mungkin meninggalkan orang tua kami yang telah berusia lanjut. Opsi-opsi kemudian kami perluas. Pilihannya adalah membuat rumah dan dikontrakkan. Pertimbangannya adalah:
- Pembangunan rumah merupakan ekspresi eksistensi kami (kalau kami mau, kami bisa mandiri).
- Dengan dikontrakkan, kami memperoleh pendapatan.
Sampai sekarang rencana tinggallah rencana. Kemarin, Ira kembali mempertanyakan rencana saya dengan hati-hati. Sayapun menjelaskan padanya sebagai berikut:
- Setelah kami kalkulasi secara matematis dan memasukkan aspek ekonomis, ternyata kami menilai tidak layak.
- Motivasi yang dominan adalah ekspresi eksistensi, dapat diartikan pembangunan tersebut berawal dengan sebuah arogansi (kesombongan). Akankah itu berkah? Karena merupakan sebuah arogansi, berarti ‘besok’ kami akan ditolak surga….wah…alamat rugi ‘fi dunya wal akhiroh’.
- Yang paling realistis adalah bahwa plafon hutang (ditambah tabungan) yang kami miliki belum menutup kebutuhan pendanaan. Pada sisi lain, dalam waktu dekat kakak akan masuk SMA….kantong cekak banyak maunya…..halah…..
~!@#$%^&*()_+