Tanggal 30 November – 2 Desember 2011 lalu, saya bersama beberapa rekan kerja berkesempatan mendapat penugasan ke Balikpapan. Itu merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki ke tanah Borneo.
Hari pertama dan hari kedua saya bersama rombongan menjalankan tugas. Update status di facebook yang mengabarkan keberadaan sayapun ditanggapi sepupu saya (Sulastomo). Dia merupakan sepupu, keluarga, partner dolan-dolan kuliner dan diskusi tentang berbagai hal. Dia bekerja di Chevron (sebuah PMA d/h Caltec Pacific). Dia kabarkan bahwa kawannya (mas Agus) berada di Balikpapan. Sayapun mendapatkan nama dan nomor HP darinya.
Malam hari kedua saya menghubungi mas Agus. Saya meminta padanya untuk menemani saya outing bersama beberapa kawan. Berhubung saat makan malam tiba, rombongan saya berangkat. Sayapun sendirian menunggu mas Agus di hotel.
Kira-kira jam 8 WITA mas Agus datang. Dia sendirian tanpa keluarganya. Kamipun kemudian outing berdua dan mencari makan malam. Pilihan jatuh pada Iga bakar d’Jogja. mas Agus menawarkan menu ini dengan harapan cita rasa di lidah mendekati asal daerah saya. Pertimbangannya, saya sudah banyak makan seafood di Balikpapan.
Sepanjang perjalanan, mas Agus bercerita tentang banyak hal. Jembatan yang berumur setahun telah dibangun kembali, jalanan yang banyak lubang, truk-truk mengantri solar (padahal Kalimantan Timur merupakan penghasil minyak).
Sampai di tujuan jam telah menunjukkan pukul 8.45 WITA. Sambil menunggu pesanan, kami melanjutkan obrolan tentang berbagai hal. Tentang kota Balikpapan yang lebih relijius dibanding Jogja, otonomi daerah (yang setengah hati), tentang pemilihan kepala daerah secara langsung (yang tidak memberikan banyak manfaat pada masyarakat), tentang penghapusan subsisi pendidikan tinggi (yang baru disadari setelah berjalan 10 tahun – ternyata berakibat negara berpeluang kehilangan 1 generasi kelak memimpin negara), tentang ormas, tentang anak-anak.
Saat pesanan datang kamipun bersantap sambil meneruskan perbincangan kami. Tanpa disadari, jam telah menunjukkan pukul 10.30 WITA, berarti telah melewati setengah jam waktu tutup. Kamipun pulang menuju hotel.
Di perjalanan ke hotel saya mampir ke sebuah apotik untuk mencari obat. Sejak sore hari saya memang agak pusing setelah jalan-jalan di pasar Kebun Sayur. mas Agus menduga kemungkinan saya mengalami dehidrasi. Saya disarankan untuk minum pereda nyeri dan banyak minum. Beberapa tips juga diberikan kepada saya.
Sesampai di hotel, mas Agus langsung pulang. Saya langsung minum obat, minum air putih sebanyak-banyaknya dan langsung tidur. Esok harinya nyeri di kepala sudah sembuh. Saya ingat-ingat lagi obrolan semalam. Satu hal yang menjadi catatan saya: saya jadi tahu kualifikasi seperti apa yang direkrut perusahaan Chevron. Dibanding dengan korps saya di pemerintahan daerah…..duh…duuh…
~!@#$%^&*()_+