Tadi malam saya berkesempatan main ke sekolah tempat sepupu saya (om Imam – panggilan untuk membahasakan anak saya) mengajar. Saya main ke sekolah tersebut karena di ajak om Imam. Sehubungan dengan adanya beberapa file yang akan saya copy, sayapun mengikuti ajakannya.
Sekolah tersebut berada di lingkungan perdesaan dan terdaftar dengan nama SMK Muhammadiyah1 Turi. Hanya sedikit yang saya tahu tentang sekolah tersebut. Dahulu merupakan sekolah pendidikan guru (SPG), kemudian menjadi SMEA, dan terakhir menjadi SMK dengan konsentrasi pada akuntansi.
Sesampai di sekolah, kamipun kemudian menyalakan komputer yang biasa digunakan om Imam. Sambil bekerja kamipun mengobrol banyak hal: tentang keluarga, sekolah, agenda nonton festival Ngayogjazz, dll.
Dari obrolan tersebut, saya meyakini bahwa SMK Muhammadiyah 1 Turi tidak lagi sebagai sekolah ‘ndeso’. Sertifikasi ISO yang sedang disiapkan memang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Banyak lembaga yang berusaha memdapatkan sertifikasi ISO, akan tetapi bukan hal itu yang menarik perhatian saya.
Diceritakan om Imam bahwa bel sekolah sekarang diatur dengan komputer. Suara bel (nada deringnya) menggunakan beberapa lagu mp3 dari komputer. Bel masuk sekolah, pergantian jam pelajaran, jam istirahat, jam pulang sekolah menggunakan lagu yang berbeda-beda. Kadang-kadang lagu yang digunakan juga diganti sesuai dengan mood.
Kalaupun ini merupakan sebuah ‘kenekatan’, saya yakin bahwa ‘kenekatan’ om Imam mengganti bel sekolah akan menarik bagi siapa saja yang terlibat dalam pengelolaan sekolah tersebut. Secara diam-diam, mungkin siswa merasa bangga dengan sekolahnya. Sebuah kebanggaan yang dapat memacu siswa untuk berprestasi. Atau bisa jadi, setiap orang di sekolah tersebut akan menanti-nanti ‘kejutan’ yang mungkin terjadi – terutama bel pulang sekolah!
.
Sekilas itu merupakan hal biasa, hal kecil. Akan tetapi bukankah semua yang besar dimulai dari yang kecil? Presiden Soekarno mengatakan ‘perjalanan panjang dimulai dari langkah pertama’. Saya jadi teringat kutipan Serat Sasongko Jati dari buku Akuntansi Biayanya pak Mulyadi:
‘Aja sira kepingin age-age nandangi pakaryan gede, awit pakaryan gede iku arang tekane, kang kerep sira sandung iku pakaryan kang cilik-cilik, kepriye anggonira bakal ngayahi pakaryan kang gede, yen sira durung tau ngayahi pakaryan kang cilik? Mula saka iku, samubarang kang tinemu ing tanganira, lakonana klawan temen-temen ing ati suci, atasna awit saka karsaning Gusti, sebab ora ana pakaryan ing ndonya iki, kang ora saka karsasing Pangeran, nadyan kang katone remeh pisan’. (Jangan engkau mengharapkan segera melaksanakan pekerjaan besar, atau mengharapkan datangnya pekerjaan besar, karena pekerjaan besar jarang kau temui. Yang sering engkau temui adalah pekerjaan kecil. Engkau jangan meremehkan pekerjaan kecil tersebut, karena jika engkau belum biasa dengan pekerjaan kecil, bagaimana engkau akan mampu melaksanakan pekerjaan besar. Oleh karena itu, segala yang engkau temui laksanakan dengan sungguh-sungguh dengan niat suci, atas namakan Karsa Tuhan, karena tidak ada pekerjaan di dunia ini yang tidak karena Karsa Tuhan, meski yang kelihatan remeh sekalipun).
Sebagai catatan, om Imam adalah Guru Tidak Tetap (GTT) pada sekolah tersebut. Lamunan saya lalu mengembara ke mana-mana… saya khawatir jangan-jangan hal yang nampak kecil jarang dilakukan (baca: tidak pernah) para pendidik kita (yang sudah mendapatkan status PNS)! Semoga ini hanya sebuah kekhawatiran saya saja…..